<body>
 Home |  About |  Ta'aruf |  Kutulis | Kubaca | Teknologi |
Index
Kutulis  >> View All
Meriahkan pesta ulang tahun bersama GarudaFood
Persyaratan Kontes SEO Ultahku.Com Garudafood
Penjelasan Lomba Seo ARTATEL, Solusi komunikasi hemat dan handal
Peluang Bisnis Online Tanpa Ribet
Mobil Keluarga Terbaik Di Indonesia
TOP 1 Oli sintetik mobil-motor Indonesia
Neblog untuk Stop Dreaming Start Action
Kubaca  >> View All
PERLU SIKAP YANG SAMA TERHADAP SEMUA TERORIS
Raed Shalah : Israel Sedang Membangun Sinagog di Bawah Al-Aqsha
Perlucutan Senjata Nuklir Amerika
Sebuah nasehat dari saudara
Pidato Presiden Iran di Majelis Umum PBB
Pernyataan Sikap Hidayatullah Atas Bom Jimbaran dan Kuta
Kejantanan Dawam Dibangkitkan Musdah Mulia
Kupelajari  >> View All
Instalasi GW-DS11C di Linux
Xterasys XN-2523G nok Linux
Instalasi Perangkat Wireless Lan ( PCMCIA Card ) di GNU/Linux
Tips searching (update 21-8-2005)
Implementasi DHCP (Dynamic Host Configuraton Protocol ) untuk LAN (Local Area Network)
SCRIBUS : PageMaker - nya GNU/Linux
Sistem Monitoring Traffik Paket Internet Menggunakan Script Bash Shell dan MySQL berbasis Simple Network Management Protocol
Anggota Dari



*/ ?>
 
 M  e  r  a  j  u  t    U  k  h  u  w  a h   M e n g g a p a p a i   R i d h l o   I l l a h i 

Kejantanan Dawam Dibangkitkan Musdah Mulia
6 September 2005 (03:11 WIB)
Di ambil dari : http://www.swaramuslim.net
Laporan Abu Qori


Gus Dur dan Dawam Bukan Ulama, Jadi, siapakah Gus Dur itu? Ya pembela orang kafir
Alkisah, di tahun 1980-an, sebuah mobil Honda Civic (yang kala itu tergolong mahal), dari sebuah areal perparkiran di Jakarta nyelonong masuk ke jalur bus. Kejadian mendadak itu membuat sopir bis menginjak rem demi menghindari tabrakan, akibatnya sang sopir pun dimarahi penumpang (yang tidak tahu kejadian sebenarnya).

Pengemudi Honda Civic tadi, ternyata seorang mahasiswa. Si Mahasiswa bukannya merasa bersalah dan minta maaf, malah justru petantang-petenteng memarahi sopir bis, bahkan ia memanggil teman-temannya sesama mahasiswa untuk melakukan tindak pengeroyokan terhadap si sopir. Mengapa mahasiswa itu bersikap demikian? Ternyata di dalam mobil yang ia kemudikan itu, duduk seorang cewek. Rupanya, sang cewek inilah yang telah membangkitkan ‘kejantanan’ si mahasiswa tadi, sehingga ia begitu agresif menyerang sopir bis.

Di Hotel Mandarin, 4 Agustus 2005 lalu, MBM TEMPO mengadakan sebuah forum sebagai reaksi atas Fatwa MUI. Sebagai pembicara hadir Musdah Mulia, Dawam Rahardjo, Syafi’i Amin, Ma’ruf Amin (MUI), Fauzan (MMI).


Di forum itu Musdah Mulia dengan ‘berani’ (baca: kurang ajar) mengecam MUI yang mengharamkan nikah beda agama. Bahkan Musdah menjamin, nikah beda agama antara Muslimah dengan pria non Muslim, tidak akan membuat si Muslimah terseret mengikuti agama suaminya. Setidaknya bila itu terjadi pada dirinya, begitu alasan Musdah.

Rupanya ‘keberanian’ Musdah mengecam MUI ini telah berhasil membangkitkan ‘kejantanan’ Dawam Rahardjo, yang kini berusia di atas enam puluh tahun namun belum mendapat hidayah.

Di forum itu, Dawam menuding-nuding (menunjuk-nunjukkan jarinya ke arah Amidhan yang duduk di barisan terdepan), sehingga membuat Amidhan pun bangkit mendekat ke arah Dawam. Suasana sempat menghangat, namun keburu dilerai.

Pada kesempatan itu Dawam berujar, “bila Gus Dur ingin agar dana untuk MUI distop, maka saya minta agar MUI dibubarkan!”


Gus Dur dan Dawam Bukan Ulama

Siapa bilang Gus Dur itu Ulama? Juga siapa bilang Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Ulil Abshar Abdalla dan kawan-kawannya itu ulama? Mereka adalah orang-orang yang berupaya untuk mencabut fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia), terutama tentang sesat dan murtadnya Ahmadiyah, sesatnya sekulerisme, liberalisme, dan pluralisme agama alias menyamakan/menyejajarkan semua agama, haramnya nikah beda agama, dan haramnya perdukunan, serta doa bersama antar agama.

Dengan gencarnya upaya Gus Dur, Dawam Rahardjo, Ulil dan lain-lain dalam melawan fatwa MUI itu, akibatnya sebagian masyarakat tampak ada yang bingung. Maka dalam kajian di Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jawa Tengah, Rabu 10 Agustus 2005, ada beberapa orang yang mengajukan pertanyaan, di antaranya seorang pemuda bertanya:

“Sekarang ini ulama bertikai dengan ulama. Ini menjadikan masyarakat bingung. (Apakah mengikuti fatwa MUI atau mengikuti yang menolaknya). Bagaimana ini Ustadz?”

Hartono Ahmad Jaiz yang telah menyampaikan penjelasan di hadapan 300-an jama’ah masjid kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto itu menjawab dengan tenangnya:

“Siapa bilang Gus Dur itu Ulama? Juga siapa bilang Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, Ulil Abshar Abdalla dan kawan-kawannya itu ulama? Jadi pertanyaannya ini sendiri yang harus diperbaiki. Karena yang terjadi bukan pertikaian antara ulama dengan ulama, namun sebenarnya hanyalah para pembela kesesatan menentang para ulama dan pemberantas kesesatan. Itu saja. Jadi kenapa bingung-bingung?”

Pengajian kali ini bertema menyikapi aliran sesat masa kini. Yang dibahas adalah aliran-aliran sesat yang difatwakan MUI, juga para pengusung dan pembelanya. Maka mengingat pengajian ini berlangsung di Universitas Muhammadiyah, pembicara bertanya di sela-sela uraiannya:

“Apa perlu disebut nama para pengusung dan pembela kesesatan yang berasal dari Muhammadiyah?”

“Perlu!” Sahut hadirin.

Lantas ketika Hartono Ahmad Jaiz baru menyebut nama Ulil Abshar Abdalla (bukan dari Muhammadiyah tapi dari NU dan kordinatror JIL –Jaringan Islam Liberal), sudah ada suara dari hadirin menyebut Dawam Rahardjo, yang lain menyebut Syafi’i Ma’arif, dan lainnya lagi menyebut Amien Rais, yaitu tokoh-tokoh Muhammadiyah yang ditengarai membela Ahmadiyah dan bersuara miring terhadap Fatwa MUI.

Hartono Ahmad Jaiz menegaskan, orang-orang yang membela Ahmadiyah, JIL (Jaringan Islam Liberal), nikah beda agama, do’a bersama antar agama, perdukunan dan kesesatan lainnya seperti liberalisme, sekulerisme, dan pluralisme agama itu pada dasarnya bukan sekadar menentang fatwa MUI namun menentang hukum Allah swt. Menentang Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Untuk apa? Untuk mencari duit dari lembaga-lembaga kafir.

Contohnya, Musdah Mulia dan 26 konconya yang kini di barisan depan dalam menentang fatwa MUI itu, dalam upayanya untuk menentang hukum Allah swt, mereka membuat Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam. Buku setipis 117 halaman yang berisi penentangan hukum Allah, dengan memunculkan hukum kontroversi yaitu laki-laki dikenai ‘iddah (masa tunggu, tidak boleh nikah selama masa tunggu) 130 hari, membolehkan nikah dan waris beda agama; itu adalah untuk menentang hukum Allah dalam rangka mencari duit. Dan itu dibiayai sebesar Rp 6 miliar oleh lembaga kafir The Asia Foundation yang berpusat di Amerika, yang cabangnya di Jakarta dekat Blok M.

Maka benarlah sabda Nabi saw: “Inna likulli ummatin fitnah. Wa innafitnata ummatii almaal.” Artinya:
“Sesungguhnya setiap umat itu ada ujiannya. Dan ujian bagi ummatku adalah maal, yaitu duit,” kata Hartono Ahmad Jaiz mengutip sabda Nabi saw.

Selaku pembela kesesatan, orang-orang liberal itu mengajukan argumen-argumen berupa kebohongan, tegas Hartono. Dicontohkan, alasan mereka dalam membela Ahmadiyah sering dikemukakan dengan ungkapan: Islam tidak mengajarkan kekerasan, kenapa mereka berbuat kekerasan terhadap Ahmadiyah, itu melanggar HAM (Hak asasi manusia). Sesama muslim kenapa sesat menyesatkan, itu namanya memecah belah persatuan umat dan semacamnya.

Dalam kasus Ahmadiyah, para pembela Ahmadiyah itu tidak pernah mengkaji ajaran Ahmadiyah. Padahal kalau mau membaca kitab suci Ahmadiyah, yaitu Tadzkirah yang tebalnya melebihi Al-Qur’an, maka mestinya tidak akan beralasan dengan ukhuwah Islamiyah ataupun persatuan. Karena di Tadzkirah itu sendiri ditegaskan, orang yang tidak mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Utusan Allah swt itu dinyatakan sebagai musuh. Bunyi ayatnya:

“Sayaquulul ‘aduwwu lasta mursalan.” Artinya: “Musuh akan berkata, engkau (wahai Mirza Ghulam Ahmad) bukan orang yang diutus (Allah).” (Tadzkirah, halaman 402).


Kesesatan lain pun banyak, di antaranya:

a. Perkataan Mirza Ghulam Ahmad: Seseorang yang tidak beriman kepadaku, ia tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. (Haqiqat ul-Wahyi, hal. 163).

b. “Sikap orang yang sampai da’wahku kepadanya tapi ia tak mau beriman kepadaku, maka ia kafir. (S.k. al-Fazal, 15 Januari 1935).

c. Basyiruddin, anak Mirza Ghulam Ahmad, berkisah: “Di Lucknow, seseorang menemuiku dan bertanya: ‘Seperti tersiar di kalangan orang ramai, betulkah anda mengafirkan kaum Muslimin yang tidak menganut agama Ahmadiyah?’ Kujawab: ‘Tak syak lagi, kami memang telah mengafirkan kalian!’ Mendengar jawabanku, orang tadi terkejut dan tercengang keheranan.” (Anwar Khilafat, h. 92).

d. Ucapannya lagi: “Barangsiapa mengingkari Ghulam Ahmad sebagai ‘nabi’ dan ‘rasul’ Allah, sesungguhnya ia telah kufur kepada nash Quran. Kami mengafirkan kaum Muslimin karena mereka membeda-bedakan para rasul, mempercayai sebagian dan mengingkari sebagian lainnya. Jadi, mereka itu kuffar!” (S.k. al-Fazal, 26 Juni 1922).

e. Katanya lagi: “Setiap orang yang tidak beriman kepada Ghulam Ahmad, maka dia kafir, ke luar dari agama walaupun dia Muslim, walaupun ia sama sekali belum mendengar nama Ghulam Ahmad.” (Ainah Shadaqat, h. 35).

f. Dan Basyir Ahmad meningkahi ucapan abang kandungnya: “….. Setiap orang yang beriman kepada Muhammad tapi tidak beriman kepada Ghulam Ahmad, dia kafir, kafir, tak diragukan lagi kekafirannya”. (Review of Religions,No. 35; Vol. XIV, h. 110).



Ahmadiyah dan kemusyrikan

Kesesatan Ahmadiyah yang sampai kepada kemusyrikan, di antaranya dikemukakan oleh Ahmad Haryadi mantan propagandis Ahmadiyah. Ketika dia jadi pembicara bersama Hartono Ahmad Jaiz dan M Amin Djamaluddin dari LPPI (Lembaga penelitian dan Pengkajian Islam) Jakarta, dalam kajian tentang sesatnya Ahmadiyah di Masjid Taman Kartini Bekasi Jawa Barat, Ahad 7 Agustus 2005, Haryadi mengemukakan ayat Tadzkirah yang isinya kemusyrikan. Bunyinya:

“Anta minnii bi manzilati waladii.” Artinya: “Engkau (Mirza Ghulam Ahmad) terhadapku pada posisi anakku.” (Tadzkirah, halaman 636).

Ayat-ayat Tadzkirah yang jelas sesat menyesatkan dan amat jauh kesesatannya itupun dibuka langsung oleh Hartono Ahmad Jaiz, Ahmad Haryadi, dan Amin Djamaluddin di berbagai tempat. Hanya saja yang kebagian getah biasanya adalah Amin Djamaluddin. Ketua LPPI ini dibanjiri sms (pesan singkat lewat telepon genggam) di antara isinya, menjuluki Amin Djamaluddin sebagai Abu Lahab yang menenteng-nenteng Tadzkirah ke mana-mana.

“Dasar sesat, masa’ saya dibilang sebagai Abu Lahab,” kata Amin Djamaluddin.

Kisah itu mirip dengan reaksi kelompok sesat LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) terhadap H Nasifan di Tulungagung Jawa Timur. Ketika H Nasifan pulang dari Saudi Arabia, dia menceritakan bahwa dia berguru di Darul Ifta’ Saudi Arabia, dan sempat memberitahu kepada Syaikhnya itu tentang penipuan-penipuan Nurhasan
Ubaidah pendiri Islam Jama’ah (LDII), di antaranya menarik saham Rp 10.000 per orang seharga satu sapi tahun 1960-an, lalu kalau saham itu ditanyakan, justru Nurhasan Ubaidah berbalik dengan menyatakan bahwa yang bertanya itu tidak taat Amir, jadi akan masuk neraka selamanya.


Syaikh Darul Itfa’, Syaikh Al-Amudi, menjawab: “Kalau seperti itu maka dia Dajjal.” Kisah itu dipidatokan langsung oleh H Nasifan di rumahnya, Tulungagung, tahu-tahu orang LDII (Islam Jama’ah) berdemo dan mencoret-coret dinding rumah H Nasifan dengan tulisan yang bunyinya “Abu Lahab”. (Kisah ini bisa dibaca di buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, karya Hartono Ahmad Jaiz).

Tentang kekerasan yang dijadikan alasan kelompok liberal dalam membela aliran sesat Ahmadiyah, menurut Hartono Ahmad Jaiz, perlu ditelusuri kebenarannya. Mereka hanya melihat berita sepotong-sepotong dari televisi dan lainnya, yang belum tentu obyektif.

Buktinya, ketika KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) mengadakan konferensi pers 24 Juli 2005 di Kantor Pusat Muhammadiyah Jakarta, dan Hartono Ahmad Jaiz menjelaskan kesesatan-kesesatan Ahmadiyah dengan membawa bukti kitab suci mereka, Tadzkirah, lima stasiun televisi yang meliput konferensi pers itu tidak ada satu pun yang menyiarkannya.

Dari sisi lain, umat Islam yang membawa pentungan bambu ketika mengepung kompleks Ahmadiyah di
Parung Bogor, sudah dipermasalahkan di Koran Republika oleh Azyumardi Azra, orang liberal yang jadi rector UIN (IAIN) Jakarta. Padahal, pentungan bambu itu tidak untuk memukuli orang Ahmadiyah sama sekali.

Dan ketika ada insiden lempar melempar antara orang Ahmadiyah di dalam pagar dan umat Islam di luar pagar, tidak ada kejelasan, siapa yang melempar duluan. Ada khabar, dari Ahmadiyah yang di dalam pagar lah yang melempar duluan, sehingga terjadi lempar melempar. Dan di pihak umat Islam pun 7 orang terluka. Tetapi yang jelas, kejadian saling melempar itu tidak dikomandoi pemimpin umat Islam, bahkan pemimpinnya memberi aba-aba agar tidak anarkis. Kalau seperti itu, sebenarnya yang bertindak kekerasan siapa?

Dan kalau mau menengok sejarah, sebagai ahli tarikh, Azyumardi Azra, kalau memang berani, coba kecam itu Abu Bakar ra yang mengerahkan tentara untuk menyerang nabi palsu Musailamah Al-Kaddzab dan para pengikutnya hingga nabi palsu itu tewas bersama sebagian pengikutnya. Padahal, kepalsuan yang dibuat Musailamah sama sekali lebih sederhana dibanding wahyu palsu yang dibuat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan menjadi kitab suci palsu, Tadzkirah.

Lain lagi ulil Abshar Abdalla, Masdar Farid Mas’udi, Abdul Muqsith Ghozali, dan Muslim Abdurrahman bekas pengurus di Muhammadiyah, yang menganggap bahwa keyakinan tidak boleh dihukumi. Karena definisi hukum Islam itu menurut Ulil adalah mengenai af’alul ‘ibad (perbuatan manusia) hamba, sedang pemikiran bukanlah perbuatan.

Ulil dan Muslim Abdurrahman lupa barangkali, dalam Islam, niat pun dihukumi, apalagi pemikiran yang disebarkan. Kalau tidak, maka orang akan bebas menyebarkan pemikiran yang destruktif alias merusak.
Misalnya, pemikiran yang membolehkan untuk mencuri, disebarkan, lalu diikuti. Ketika pencuri tertangkap lalu diusut dan mengaku bahwa dia mencuri itu karena mengikuti pemikiran yang membolehkan pencurian, maka dicarilah penyebar dan pencetus pemikiran jahat itu. Apakah bisa, beralasan bahwa pemikiran itu tidak boleh dihukumi? Oleh karena itu, pemikiran liberalisme, sekulerisme, dan pluralisme yang semuanya itu telah difatwakan sebagai yang bertentangan dengan Islam, maka keputusan itu sah, dan bahkan mesti ditindak
lanjuti dengan pelarangan.

Kalangan liberal juga beralasan, fatwa MUI jangan sampai ditindak-lanjuti dengan pelarangan dari pemerintah, karena negara tidak boleh mencampuri keyakinan orang. Alasan itu sangat naïf. Karena, yang difatwakan MUI tentang sesatnya Ahmadiyah, liberalisme, sekulerisme, pluralisme agama, dan nikah beda agama itu kalau dibiarkan maka akan merusak aqidah umat Islam.

Perusakan di bidang fisik saja tidak boleh berlangsung, hingga pemerintah mengangkat dan menugaskan puluhan ribu polisi. Lha ini perusakan yang lebih drastis dibanding perusakan fisik, yaitu perusakan aqidah/agama malah tidak boleh ditangani, ini pemikiran yang tidak mungkin muncul kecuali dari orang-orang yang anti agama. Padahal, negara menjamin kebebasan beragama, maka bentuk jaminanannya itu salah satunya adalah memberantas segala bentuk yang merusak aqidah agama.

Jadi semua yang difatwakan MUI sebagai sesat menyesatkan ataupun haram, atau bertentangan dengan Islam, itu wajib diberantas oleh negara, demi menjaga kebebasan umat dalam beragama. Kalau sekarang wadah pelaksananya belum ada, maka mesti dibentuk, lantas berbuat, agar agama umat ini terjaga dari aneka perusakan. Untuk menjaga keamanan fisik saja diperlukan puluhan ribu polisi, lha untuk yang lebih penting dibanding fisik, yaitu rohani yang bentuk konkritnya aqidah agama malah tidak ada polisinya yang menjaga, ini sudah terbalik. Maka pencuri-pencuri aqidah sekarang ini berpesta pora dengan menikmati kebebasan sambil mendapatkan sponsor dari pihak-pihak anti agama.

Seiring dengan bebasnya orang untuk merusak agama, maka tidak hanya lelaki yang berani merusak agama. Bahkan wanita pun ada yang berani. Contohnya, Musdah Mulia, wanita dari UIN Jakarta dan bersuamikan orang UIN Jakarta pula itu dalam upayanya untuk merusak agama, dia rela mencontohkan dirinya, seandainya dia kawin dengan lelaki non Islam maka tidak bakalan dia akan terseret ke agama suami sebagaimana yang dikhawatirkan MUI. Ungkapan Musdah Mulia itu kalau kelak
diijabahi Allah swt dengan dikawini oleh orang kafir yang super galak dan menyeretnya ke kekafiran, maka siapa tahu.

Hanya saja, ungkapan lantang itu sudah jelas merusak agama dengan menantang Al-Qur’an Surat Al-Mumtahanah (60) ayat 10: Laa hunna hillul lahum walaa hum yahilluuna lahunna. Tidaklah wanita muslimah halal bagi laki-laki kafir, dan tidaklah laki-laki kafir halal bagi wanita muslimah.

Musdah Mulia yang sudah sampai senekad itu ketika berdampingan dengan Dawam di acara diskusi yang diselenggarakan Tempo di Hotel Mandarin Jakarta (4/8 2005) rupanya menjadikan Dawam Rahardjo lebih tertantang untuk lebih berani lagi. Sehingga Dawam sampai berteriak lantang di acara ulang Tahun Gus Dur pada malam harinya (4/8 2005) bahwa yang sesat itu, menurut teriakan Dawam, adalah MUI.

Ungkapan Dawam Rahardjo itu tak berapa lama disindir pula oleh Muslim Abdurrahman, yang walau sesama pengusung liberal, tampaknya ada juga ungkapan warasnya. Muslim menceritakan, bahwa di Muhammadiyah, ada pertanyaan: Apakah Pak Dawam itu sudah masuk Ahmadiyah, ya? Cerita itu kemudian disusul dengan berita radio, kata Muslim Abdurrahman, orang Ahmadiyah di Cianjur sudah ramai-ramai masuk Islam. Jadi kalau yang keluar dari Ahmadiyah itu masuk Islam, berarti Pak Dawam keluar dari Islam. “Ini berita di radio, lho Pak Dawam…,” ucap Muslim Abdurrahman dengan gaya cengengesannya tapi mengaku serius saat mau memuji Gus Dur di ulang tahunnya ke-65 itu.

Karena Muslim Abdurrahman mengaku serius, maka pidatonya itupun dikutip oleh seorang penceramah di Pesantren Darun Najah Jakarta (6/8 2005), pimpinan KH Mahrus Amin. Dalam ceramah tentang aliran sesat Ahmadiyah, penceramah ditanya oleh seorang santriwati, sebenarnya siapa Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu, kok selalu berseberangan dengan ulama. Jawab penceramah, menurut pidato Muslim Abdurrahman dalam ultah Gus Dur, bahwa yang diwariskan Gus Dur bila 25 atau 20 tahun nanti Gus Dur sudah tidak ada adalah pembelaannya terhadap minoritas. Pembelaan terhadap minoritas, menurut penceramah di Darun Najah itu, maksudnya adalah pembelaan terhadap orang kafir. Jadi, siapakah Gus Dur itu? Ya pembela orang kafir. (Laporan Abu Qori).


Halaman ini 1292 kali diklik


 
MENDUKUNG
Mudah-mudahan harapan kami tercapai.
Mutiara Hikmah
Dari Ibnu 'Abbas ra., katanya: "Ketika Rasulullah saw. belum lama tiba di Madinah, didapatinya orang-orang Yahudi puasa pada hari 'Asyura. Lalu mereka ditanya perihal itu (apa sebabnya mereka puasa pada hari itu). Jawab mereka, "Hari ini adalah hari kemenangan Musa dan Bani Israil atas Fir'aun. Karena itu kami puasa pada hari ini untuk menghormati Musa." Maka bersabda Rasulullah saw., "Kami lebih pantas memuliakan Musa daripada kamu." Lalu beliau perintahkan supaya kaum muslimin puasa pada hari 'Asyura." (HR Muslim )
Cuap-cuap
Maaf jika blog ini memang lama nggak di update !!!
.
Link
Sementara kosong dulu.
Blog Anda
Mimpi Juara
Daftar Kontes SEO
Belajar Membuat Web Pemula
Belajar SEO Pemula
Mengembalikan Jati Diri Bangsa Host22
Nulis
Arisnb
Tukang Nggame
Nulis on The Net
lowongan kerja 2017 lowongan kerja BUMN kerajinan tembaga postingku arisnbw kerajinan kuningan kerajinan tembaga kuningan kerajinan tembaga Toko Buku Muslim Buku Cerita Binatang kerajinan tembaga kerajinan tembaga Sewa Mobil Makassar kerajinan tembaga kerajinan tembaga kuningan pusat kerajinan tembaga kuningan Brass Handicrafts Copper Handicraft kerajinan kuningan Tips Memilih Jasa Logistics Terpercaya Di Indonesia Staedtler Pensil Terbaik Untuk Anak Pertamina Solusi Bahan Bakar Berkualitas dan Ramah Lingkungan Cara Mengatasi Anak Susah Makan dengan Laperma Platinum Seri Teladan Rasulullah SAW

 

 

Copyright © Aris - Surabaya, January 2005
Rekanku, Weblog ini Cipto Junaedy dan kerajinan tembaga baik , coba saja silakan nilai . Dan juga website punya orang yang gw ketahui kerajinan tembaga kerajinan tembaga | kerajinan tembaga yang cocok untuk dibaca tsb.
kerajinan tembaga| Buku Cerita Binatang
Buku Anak Islam